livescore
Berita Bola

Salah Mengartikan Taktik Yang Menjadikan Manchester United Juara Sekaligus Menyelamatkan Sir Alex Ferguson


Tepat di hari perayaan keberhasilan Manchester United merajai Piala FA 1990, Lee Martins mengenang kesalahpahaman yang berujung gol kemenangan.

Dengan 13 gelar juara Liga Primer Inggris, dua Piala Eropa dan enam Piala FA, rasanya sangat sulit membayangkan masa-masa Sir Alex Ferguson terancam pemecatatan di Manchester United. 

Tetapi pada 1990, sang legenda nyaris kehilangan pekerjaannya. 

Ferguson hampir ditendang dari Old Trafford karena United puasa gelar selama tiga setengah tahun. Mereka mengakhiri musim di peringkat 13 Division One dan menuntaskan 11 pertandingan tanpa kemenangan di musim tersebut. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan musim dan pekerjaan adalah meraih kemenangan secara beruntun. 

Lanjutan dari cerita di atas adalah sejarah dengan bergelimang gelar. 

United menghajar Crystal Palace pada laga ulangan untuk mengangkat trofi Piala FA dengan kemenangan 1-0 di Wembley. Ini adalah permulaan dari dominasi Sir Alex bersama si Setan Merah hingga masa pensiun pada 2013. Tetapi, pahlawan kemenangan tim pada hari itu, Lee Martin, meyakini juru taktik Skotlandia tersebut akan tetap meraih sukses apapun yang terjadi. 

“Banyak yang mengatakan jika gol saya telah menyelamatkan Ferguson, tetapi saya tidak berpikir seperti itu,” ujar Martin pada Goal. “Saya pikir dia akan diberikan lebih banyak waktu meski ketika itu kami gagal menang. Meski demikian, menjadi bagian dari awal kesuksesan Sir Alex adalah menyenangkan.”

Gol tersebut adalah yang kedua yang diciptakan sang bek kiri untuk United dan Ferguson bukan satu-satunya orang yang diuntungkan. 

“Saya sama sekali tidak pernah berpikir akan mencetak gol di final. Rekor gol saya di tim utama tidak meyakinkan.”

“Saya pikir torehan gol saya adalah 60-1. Beberapa teman saya bertaruh saya bisa mencetak gol sehingga menang £600, dahulu jumlah itu sangat besar.”

United dan Palace bermain imbang 3-3 di pertandingan pertama, gol kedua Mark Hughes tujuh menit jelang babak tambahan selesai memastikan kedua tim bertemu lagi lima hari kemudian.”

“Saya sangat gugup, bahkan sepekan sebelumnya,” kenangnya. Kami pergi London beberapa hari sebelum pertandingan dan terasa menakutkan. Tampil di final adalah mimpi saya sejak kecil, beraksi di final Piala FA di Wembley. Jadi saya sangat gugup, bahkan ketika berada di lorong stadion.”

“Berjalan di sana adalah hal terbaik yang bisa terjadi di sepakbola. Mencetak gol terasa brilian, tetapi berjalan di Wembley di partai final untuk Manchester United adalah hal terbaik yang pernah saya lakukan.”

Meski harus menjalani laga ulangan, United sempat menikmati pesta yang sebelumnya sudah dirancang di London sehari setelah final pertama sebelum pulang lagi ke Manchester United untuk berlatih dan kembali ke ibu kota Ingris.”

Kemudian Ferguson mengambil keputusan untuk menyimpan kiper utama Jim Leighton dan memainkan kiper pinjaman Les Sealey untuk berdiri di bawah mistar gawang.

“Itu mungkin keputusan besar di laga krusial dan semua orang terkejut ketika mengetahuinya,” aku Martin. “Saya merasakan kekecewaannya, dia pemain bagus dan kami semua berharap dia bermain. Tetapi jika melihat lagi ke belakang, keputusan itu tepat, namun saat itu tidak terasa demikian.”

Jadi, bagaimana tentang gol yang membuat United juara? Bagaimana seorang bek kiri yang baru mengemas satu gol untuk tim utama menjadi pahlawan di laga final? 

“Saya hanya mencoba berlari ke depan,” kelakar Martin. “Saya berjarak sekitar 20 yards dari bench dan mendengar (asisten manajer) Archie Knox berteriak pada saya untuk maju ke depan.”

“Ketika itu saya ada di kotak penalti tim dan dia berteriak untuk berlari ke depan sejauh 70-80 yards mendekat ke kotak lawan. [Neill] Webb mengirimkan bola cantik dan saya menguasainya dengan dada dan langsung melepaskan tembakan yang membuat kaki saya kram. Saya hanya berpikir menendang.”

“Kaki saya berhasil mengenai bola yang meluncur ke pojok atas gawang. Saya menyadari telah mencetak gol, tetapi kaki saya mati karena kram dan sangat sakit.”

Selebrasi gol terjadi dengan liar, rekan setim Martin melompat. Tetapi yang dipikirkan oleh sang pemain bertahan adalah rasa sakit pada kakinya. 

“Setelah saya berdiri, Robbo memukul wajah saya dan bertanya apakah semua baik-baik saja. Dia mengatakan semua bagus dan saya bisa menuntaskan pertandingan hingga menit akhir. Semua terasa luar biasa.”

“Setelah pertandingan, Archie menghampiri dan duduk di sebelah saya di kamar ganti dan dia mengaku sebenarnya tidak berteriak pada saya untuk berlari ke depan, dia memerintahkan pemain lain. Jadi seharusnya bukan saya yang mencetak gol itu.”

“Tetapi kekeliruan tersebut telah membuat saya berada di posisi yang tepat dan Sir Alex mendapatkan trofi pertamanya. Saya senang bisa menjadi bagian dari cerita itu.”

Artikel dilanjutkan di bawah ini

“Dia menambahkan: “Anda mendengar banyak orang berharap bisa bermain di final Piala FA, terutama di stadion Wembley yang lama. Sangat spesial. Menjadi bagian dari sebuah tim hebat dan berjalan mengelilingi lapangan di bawah pandangan orang-orang yang sedang bersuka cita sungguh luar biasa.”

Meski jadi pahlawan di final, Martin kesulitan mempertahankan posisi di tim utama pada musim itu sehingga dia bergabung ke Celtic pada Januari 1994. 

Nama-nama mewah lainnya kemudian menghiasi kegemilangan United bersama Ferguson, tetapi Martin selalu bisa merayakan sesuatu yang jadi dasar kuat kehadiran trofi-trofi hebat di Old Trafford.

Most Popular

To Top