livescore
Berita Bola

Dida: Alisson Becker Bisa Jadi Kiper Terbaik Dunia


Pernah kerja bareng Alisson di Internacional, Dida terkesan dengan perkembangan kompatriotnya di Eropa.

Mantan pemain internasional Brasil Dida yakin Alisson Becker bisa menjadi salah satu kiper terbaik dunia dalam beberapa tahun ke depan.

Alisson berkembang di Internacional di tanah kelahirannya setelah mewarisi jersey nomor satu dari Dida, yang terus memonitori perkembangan kompatriotnya sejak mereka bekerja sama.

Pemain 26 tahun ini awalnya harus menunggu kesempatan merebut tempat di tim utama setelah gabung AS Roma pada 2016, dan akhirnya menjadi andalan klub ibu kota Italia itu di awal musim 2017-18.

Liverpool menghabiskan €72,5 juta – rekor transfer dunia untuk kiper saat itu – untuk mengakuisisi Alisson pada Juli dan ia langsung beradaptasi di Anfield, dengan mencatat tujuh clean sheet dalam 12 penampilan Liga Primer Inggris.

“Saya sangat suka Alisson – saya pikir ia kiper hebat,” ujar Dida kepada Omnisport.

“Saya berkesempatan bekerja dengannya di Internacional. Saya melihay perkembangan besarnya dalam sepakbola; pergi ke Eropa, bermain untuk timnas Brasil.

“Saya harap ia dapat menjadi apa yang orang harapkan darinya, menaklukkan banyak hal di sini di Eropa dan memperlihatkan dirinya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia.”

Alisson menghadapi persaingan kuat untuk menjadi kiper top, termasuk dari dua pemain internasional Jerman yang bersaing untuk satu tempat di timnas mereka.

Manuel Neuer tetap mendapat kepercayaan dari pelatih Joachim Low meski tempatnya mendapat tekanan dari penggawa Barcelona Marc-Andre ter Stegen.

“Kiper hebat, keduanya hebat,” tutur Dida mengenai duo kiper Jerman itu.

“Mereka telah menunjukkan teknik dan kemampuan, yang berarti Jerman tetap berada di level tinggi di semua kompetisi.”

 

Jika Pep Guardiola biasanya disebut membawa perubahan positif di sebuah tim, lain hal dengan keberadaannya di Jerman. Menurut mantan bek timnas Hans-Peter Briegel, taktik manajer Manchester City tersebut justru memberi pengaruh buruk pada Die Mannschaft. . Guardiola menukangi Bayern Munich antara 2013 dan 2016 dan di masa itu, menerapkan filosofi penguasaan bola yang menjadi ciri khasnya di klub raksasa Bundesliga tersebut. Memang, pelatih asli Spanyol itu membawa the Bavarians merengkuh tiga gelar liga, dua DFB-Pokal, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub. . Namun, Briegel menilai filosofi Guardiola justru mengubah mentalitas sepakbola Jerman, dengan banyak tim kini meyakini mereka mesti menguasai bola demi memenangi pertandingan. . “Prinsip yang sangat sederhana luput dari pikiran kita: bahwa dalam sepakbola hasil lebih penting dari mengontrol pertandingan,” tegasnya kepada surat kabar Italia Repubblica. . “Sejak Guardiola tiba di Bayern Munich, sesuatu telah berubah. Kami memiliki ilusi bahwa 75 persen penguasaan dibutuhkan untuk menang. Tapi mengontrol bola saja tidak cukup untuk mendapat hasil, tidak selalu. . “Sejarah terkini, dan juga dengan juara dunia Prancis, telah menunjukkan bahwa Anda juga bisa menang dengan memberikan bola kepada lawan dan memilikinya kurang dari 50 persen.” . Entah gara-gara Guardiola atau tidak, tim Joachim Low memang memprioritaskan penguasaan. Jerman terlihat lebih banyak menguasai bola ketimbang lawan di enam pertandingan kompetitif di 2018, bahkan hingga 74 persen dalam kekalahan lawan Korea Selatan di Piala Dunia. . Jerman juga terdegradasi dari grup Nations League setelah gagal memenangkan tiga pertandingan sejauh ini di turnamen tersebut. Sebelumnya, Der Panzer tersingkir di fase grup Piala Dunia, setelah hanya mengemas tiga poin dari grup yang dinilai mudah. . #guardiola #mcfc #jerman #instagoal

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

 

Artikel dilanjutkan di bawah ini

 

 

Most Popular

To Top