livescore
Berita Bola

Chelsea Membangun Skuat Muda Terbaik Sejak The Busby Babes


The Blues berhasil menyamai rekor Manchester United era 1950an dengan merajai FA Youth Cup lima kali secara beruntun.

The Busby Babes dan Class of ’92 dianggap sebagai dua tim muda hebat di sepakbola Inggris. Dalam kurun waktu 40 tahun, Manchester United berhasil menetaskan dua grup pemain jebolan akademi yang mendominasi sepakbola di level domestik dan internasional dalam lebih dari satu dekade. 

Antara 1953 dan 1957, legenda seperti Sir Bobby Charlton dan Duncan Edwards membantu United merajai FA Youth Cup sebanyak lima kali secara beruntun. 35 tahun kemudian, pemain seperti David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville dan Nicky Butt naik ke permukaan untuk menghajar Crystal Palace di final kompetisi yang sama lalu menjadi tulang punggung pasukan Sir Alex Ferguson. 

Si Setan Merah kemudian melanjutkan sukses di Youth Cup, mereka juara pada 1995, 2003 dan 2011, namun setelahnya, dalam 10 tahun terakhir ini terdapat satu klub yang menjadikan juara di kompetisi tersebut sebagai sebuah hobi. 

Sejak 2010, Chelsea berhasil tampil di delapan final FA Youth Cup, dan juara di tujuh kesempatan. Mereka berhasil menyamai pencapaian Busby Babes dengan merengkuh trofi lima kali beruntun antara 2014 dan 2018. Kemenangan kesembilan dalam 11 tahun terakhir masih dalam bidikan karena the Blues telah lolos ke babak semi-final sebelum sepakbola dikemplang Covid-19. 

Penghormatan layak diberikan pada mereka yang berjuang begitu keras untuk mencicipi sukses di kompetisi ini bersama Chelsea selama satu dekade terakhir. 

Ruben Loftus-Cheek, Tammy Abraham, Mason Mount, Reece Games, Andreas Christensen, Fikayo Tomori, Callum Hudson-Odoi dan Billy Gilmour sekarang menguasai tim utama di London barat. 

Jeremie Boga, Nathan Ake, Ola Aina dan Bertrand Traore menjadi pemain reguler untuk klub-klub di lima liga top Eropa. Marcin Bulka dan Jonathan Panzo digaet Paris Saint-Germain dan Monaco, mereka juga telah menikmati karier di level top. 

Beberapa di antara mereka namanya belum terlalu dikenal seperti Tariq Lamptey di Brighton dan Isaac Christie-Davis di Liverpool, namun berada di trek yang tepat untuk mentas di Liga Primer di masa depan. 

Kemenangan 3-2 Chelsea atas Norwich City pada Agustus tahun lalu merupakan cara cantik untuk mengenalkan sebuah proyek yang telah berjalan selama 10 tahun di Chelsea pada dunia. Gol dari Mount dan Abraham menyegel kemenangan Liga Primer untuk the Blues yang dibesut Frank Lampard. Pada musim ini sang mantan gelandang menurunkan delapan debutan yang merupakan jebolan akademi seiring dengan perubahan kebijakan yang begitu membantu terhadap kerja keras di Cobham selama ini. 

“Kami merayakannya bersama Neil Bath,” kata Lampard setelah pertandingan di Carrow Road sekaligus memuji kepala pengembangan pemain muda klub tersebut. Dia bekerja keras bersama Jim Fraser, figur penting di akademi klub yang jadi penentu untuk mengidentifikasi bakat dan pembelian youngster ke klub. Di bawah mereka ada sederet orang lagi dengan berbagai tugas seperti pelatih, analis, sports scientists, psikolog, guru dan pemandu bakat yang bekerja penuh harmoni dengan satu tujuan meraih sukses. 

“Tengok satu dekade ke belakang, Anda akan melihat satu tim yang tak tertandingi dan begitu sukses di level akademi,” ujar Adi Viveash yang pernah mengantarkan tim U-19 meraih dua trofi FA Youth Cup pada Goal. “Juara sangat penting bagi perkembangan pemain. Terutama di Chelsea karena jika Anda masuk tim ini, Anda harus menang.”

Setelah merajai Youth Cup pada 2010 dan 2012, Chelsea kembali melangkah ke final pada 2013 namun ketika itu mereka secara mengejutkan tumbang di tangan Norwich City. 

“Kami pergi ke Stamford Bridge dan menang agregat 4-2,” kata jebolan Norwich yang sekarang jadi winger Cardiff City Josh Muphy pada Goal. “Kondisi seperti itu tidak sering terjadi di Youth Cup. Anda tahu, Chelsea menang lima kali beruntun dan itu bukti betapa bagusnya mereka. Kemenangan tersebut membuat tim kami diperhitungkan.”

Kekalahan dari Canaries membangkitkan semangat akademi Chelsea dan setelah merebut lagi trofi berkat kemenangan atas Fulham pada 2014, mereka menggenggam erat hingga Liverpool berjaya pada 2019. 

Setelah kekalahan 3-2 di Craven Cottage pada leg pertama enam tahun lalu, the Blues berada pada posisi tertinggal 3-2 di masa rehat di Stamford Bridge, dan mereka menatap kegagalan final kedua secara beruntun. 

Akan tetapi gol dari pemain pengganti Isak Ssewankambo pada menit 77 membuat kedudukan imbang dan dua gol lainnya disumbang Dominic Solanke untuk memastikan kemenangan dramatis di hadapan 13.000 penonton. 

“Kami punya Ruben Loftus-Cheek, Andreas Christensen, Charly Musonda, Izzy Brown dan Jeremie Boga,” kenang Ruben Sammput yang sekarang memperkuat Sunderland. “Tim itu mungkin tim akademi terbaik yang pernah kami miliki.”

“Bisa bermain dan berlatih bersama mereka sungguh luar biasa. Saya bisa mengatakan sangat bangga bisa berkembang bersama pemain sekaliber mereka. Luar biasa. Pengalaman itu telah membawa saya seperti sekarang. Saya juara Youth League dan Youth Cup dan saya bangga.”

Manchester City adalah finalis yang terjungkal dalam tiga kesempatan. Mereka diperkuat oleh Jadon Sancho, Phil Foden, Kelechi Iheanacho dan Brahim Diaz namun sederet bintang ini harus puas dengan medali runner-up. 

Abraham dan Tomori bermain di final 2015 dan 2016, sementara Mount tampil di final 2016 dan setahun kemudian bermain bersama Hudson-Odoi dan James. 

“Sepak terjang saya di level muda telah menyuntikkan kepercayaan diri,” tutur Abraham pada Goal. “Saya jadi mengetahui kemampuan mencetak gol, jadi di setiap pertandingan saya tampil habis-habisan dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjebol gawang. Itu membantu terkait kepercayaan diri yang bisa saya perlihatkan sekarang.”

Seiring kesuksesan domestik tersebut, the Blues juga unjuk gigi di level internasional, mereka juara UEFA Youth League pada 2015 dan 2016, dengan membekap Shakhtar Donetsk dan Roma. 

Tetapi Youth Cup tetaplah jadi trofi paling berharga bagi mereka. 

Chelsea Youth Cup

“FA Youth Cup selalu jadi bidikan dan sesuatu yang selalu ingin kami pertahankan,” terang Ike Ugbo yang merajai kompetisi tersebut pada 2016 dan mencetak gol di dua leg final 2017 pada Goal. “Saya pikir kami selalu bekerja keras untuk mendapatkannya. Kami bisa mewujudkan itu dan mempertahankan trofi.”

Kiper Nathan Baxter yang bermain bersama Ugbo pada 2016 mengamini: “FA Youth Cup sangat penting. Tekanan yang saya rasakan di turnamen itu sangat membantu saya tampil di level senior. Ketika saya dipinjamkan ke tim lain, dan saya bisa menjalaninya.”

Gelandang Mukhtar Ali, pemenang 2015 dan 2016 juga mengenang bagaimana tekanan di turnamen yang dirasakannya telah berbuah positif. 

“Sebelumnya kami adalah saksi dari perjuangan tim-tim terdahulu dan juara,” buka Ali pada Goal. “Tekanan itu kemudian muncul secara seketika pada kami. Bagaimana tidak, tim sebelumnya berhasil memenangkan banyak hal. Itu menghadirkan tekanan hebat, tetapi sekaligus menyenangkan.”

“Kami tahu bisa mengalahkan tim manapun. Pada 2016, tepatnya pada pertandingan kedua, kami menghajar Manchester United 5-1 dan sejak saat itu kami tahu bisa juara.”

Puncak kejayaan bagi Akademi Chelsea tercatat pada 2018, di bawah arahan Jody Morris dan Joe Edwards, the Blues U-18 meraih quadruple dengan merajai Premier League wilayah selatan, Premier League, Premier League Cup dan FA Youth Cup. 

Kemenangan agregat 7-1 atas Arsenal di partai puncak adalah gelar Youth Cup kedua bagi Hudson-Odoi dan James, sementara Gimour jadi starter di sektor gelandang pada kedua pertandingan. 

Chelsea FA Youth Cup 2015-16

“Saya memenangkan empat trofi dalam satu musim. Itu adalah kenangan terbaik saya bersama Jody Morris,” kata Clinton Mola, yang jadi pengganti di leg kedua di Emirates Stadium pada Goal. “Para pemain yang sekarang ada di skuat utama Chelsea seperti Hudson-Odoi, James dan Gilmour memang layak berada di sana.”

Tetapi layak juga jadi catatan, banyak pemain yang punya andil besar dalam kesuksesan Chelsea di level muda dalam satu dekade terakhir mengalami hambatan saat naik ke level senior. Meskipun mereka punya sederet sabuk juara, soal mental ternyata jadi masalah di akademi setelah penerus Lampard kesulitan menemukan peran yang tepat bagi para pemain penuh bakat ini. 

Klub seperti kurang menaruh kepercayaan pada para pemain muda dan tergambar jelas pada musim panas 2017. Nathaniel Chalobah yang gemilang dan mencetak gol ketika berjaya di Youth Cup 2012 dan pernah dianggap sebagai masa depan Inggris, malah dijual ke Waford seharga £5 juta. Untuk menggantikan posisinya, Danny Drinkwater didatangkan dari Leicester City dengan mahar £35 juta. 

Beruntung bagi Akademi, sekarang Lampard telah kembali ditandai oleh kesukesan Mount memberi dampak besar pada tim musim ini. Hanya dalam tempo dua tahun bekerja bersama Lampard di Derby County dan Chelsea, nama Mount yang tadinya tidak pernah terdengar, sekarang sudah berstatus pemain timnas Inggris.

Bintang berusia 21 tersebut biasa melahap perjalanan 50 mil dari rumahnya di Portsmouth untuk berlatih bersama Chelsea, padahal di waktu yang sama dia mendapat tawaran dari tim lokal. “Bergabung ke Chelsea adalah keputusan rumit karena saya harus menempuh perjalanan jauh, tetapi ini juga jadi keputusan terbaik karena kompetisi di sini lebih keras.”

Mason Mount Chelsea 2019-20

“Saya harus berterima kasih kepada semua pelatih di akademi. Bob Osborne, Frank O’Brien, Micky Bill, Joe Edwards, Jody Morris, Adi Viveash. Semua pelatih akademi dan saya tidak bisa menyebutkan semuanya tetapi mereka memberikan sesuatu dan Anda belajar banyak hal.”

Pemain terkini yang berhasil gemilang adalah gelandang asal Skotlandia Gilmour. 

“Menyenangkan,” buka Gilmour pada Goal. “Pengalaman yang saya dapat sungguh berharga. Ketika saya datang, Jody Morris melatih tim U-19 sementara Joe Edwards di U-23, jadi ketika harus berganti level saya tetap terasa tenang karena mengenal siapa Joe dan Jody. Kemudian Lampard datang, luar biasa.”

Viveash – sosok yang memulai pencapaian luar biasa di level muda – tidak dapat menyembunyikan rasa puasnya. “Saya selalu berargumen dengan pelatih-pelatih lain dan berpendapat banyak pemain bagus tersedia untuk bertahun-tahun ke depan. Sekarang saya sangat bahagia melihat para youngster itu dipandu oleh Frank Lampard.”

Selama Lampard memegang kendali di Stamford Bridge, maka akademi Chelsea adalah surganya sepakbola Inggris. Keberhasilan mereka di level muda mungkin sudah berakhir namun sekarang Chelsea punya skuad menjanjikan untuk masa depan dengan sederet catatan manis di masa lalu.

Jika ada, hanya sedikit tim yang mampu menawarkan paket seperti yang sudah diperlihatkan Chelsea. 

Most Popular

To Top